Story

BIMBANG : “Coklat Panas dan Sosok Perempuan”

Pagi menjelang siang, terlihat seorang wanita tengah sibuk memainkan laptop. Dari seragam yang ia kenakan, sepertinya wanita itu pekerja kantoran. Sesekali ia melihat handphone yang terletak di samping laptop. Setiap kali melihat handphone wajah wanita itu tampak bimbang. Sepertinya ia sedang menunggu notifikasi dari orang lain.

Seorang pelayan wanita menghampiriku dengan membawa minuman favorit pesananku. Coklat Panas sedikit gula yang menjadi minuman andalanku di tempat ini. “Terima kasih Mbak Novi”, ucapku sembari menyambut cangkir hitam itu. Aku seringkali menghabiskan waktu disini. Bahkan 1 hari bisa sampai 2 kali. Semua pelayan disini mengenalku dengan baik. Begitu pula sebaliknya, aku mengenal semua pelayan yang ada disini dari nama hingga asalnya. Terkadang ku ajak mereka ngobrol dari situlah aku tahu. Seorang pelayan menjulukiku “Masalone” (Mas Alone = Mas Sendiri). Ya katanya karna setiap kali kesini aku hanya sendiri. Uhh dasar. Tapi aku sungguh tak merasa keberatan dengan sapaan itu.

Menurutku café ini sangat nyaman. Mungkin café ternyaman se-Dunia. Selain atmosfernya yang bikin aku tenang dan bisa menikmati sedikit ruang, penataan cafenya juga bagus. Warna abu-abu gelap mendominasi, sama seperti warna favoritku. Sofanya enak dan empuk. Rasa makanan dan minumannya sangat enak. Pokoknya tempat ini aku banget.

Sudah 45 menit aku disini, ku lihat wanita tadi masih sibuk dengan laptopnya. Tapi raut wajahnya semakin nampak murung. Gelisah sudah tak bisa ia tutupi, terlihat dari gerak geriknya. Kenapa dengan wanita berjilbab itu ? Ingin rasanya ku hampiri, sekalian kenalan dan ngobrol ringan. Tapi aku takut mengganggu.

Minumanku sudah mulai kering. Aku memikirkan hendak kemana setelah ini. Sambil mikir, pandanganku terarah ke wanita tadi. Astaga, ia menangis. Disini hanya ada aku dan dia. Cafe ini memang sepi saat jam segini. Mungkin ia tak mengira bahwa aku melihat ia menangis. Atau ia sudah tak perduli jika orang-orang sekitar melihat ia menangis. Ia lantas mengenggam hp dan berlari ke toilet. Ya sepertinya dia ingin meluapkan tangisnya.

“Ahh udahlah, palingan masalah cinta” batinku. Aku lantas segera bangkit dari sofa empuk, spot favoritku di cafe itu. Aku menuju ke kasir dan tak sengaja melihat ke arah meja perempuan itu. Karena memang posisi kasir berada di belakang sisi dari tempat ia duduk. Terlihat jelas laptop yang isinya foto-foto anak kecil. Anak kecil yang sama. Lantas apa yang ia sibukkan dari tadi dengan laotop itu ? siapakah anak kecil itu ? mungkinkah itu anaknya ? atau adiknya ? soalnya perempuan itu terlihat masih muda. Kurang lebih seumuran denganku.

“Kenapa mas?” tanya Mbak Nina, petugas kasir dan membuyarkan lamunanku. “Gak apa apa mba”. Lantas aku segera membayar bill dan ku lihat perempuan itu masih belum keluar dari toilet. Entah kenapa aku rada cemas, jiwa sosialku mulai bergejolak. Tapi aku tak ingin menganggu privasinya. Aku keluar dari café itu dengan segenap rasa bimbang dan penasaran.

 

Subscribe My Youtube Channel

Baca juga :

BIMBANG : “Coklat Panas dan Masalone” (Part 2)

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *