bimbang
Story

BIMBANG : “Coklat Panas dan Masalone”

Waktu telah menunjukkan pukul 17.00 WIB. Saatnya pulang. Aku bekerja di salah satu satu perusahaan media. MJK Corp. Kebetulan aku sebagai Marketing Manager. Makanya waktu kerjaku sangat bebas dan lebih sering diluar daripada di dalam kantor. Biasanya aku tak pernah pulang ontime. Selalu saja ada kerjaan ataupun dateline yang mengharuskan ku untuk ambil waktu extra. Ya karna itu adalah bagian dari tanggung jawab.

Hari ini aku bisa pulang ontime. Dan seperti biasanya sebelum pulang ke kost, aku menikmati me time di Café Nyoklat. Ya, the best café in the world. Kebetulan Café Nyoklat berada tidak jauh dari kantor, itulah kenapa aku sering bolak balik kesana. Cukup berjalan kaki 5 menit saja.

“Sore masalone…. tumben awal.” suara khas dari penjaga kasir, Mbak Nina. “Iya kebetulan nih udah ga ada kerjaan lagi.” “Udah mulai rame ya?” Tanyaku. “Jam segini memang udah mulai rame mas, mas nya aja yang ga pernah datang jam segini. Biasanya kalo ga pagi atau siang atau malam. Hehe….”, “Iya sih, ya udh. Minumanku ya, di meja biasa.” Pintaku. Seperti biasa, aku susah move on dari minuman andalan yang satu itu. Coklat Panas. Entah kenapa coklat di Café Nyoklat sangat enak. “Siap masalone!!!” Ucap Mba Nina dengan senyum khasnya.

Aku pun menuju ke meja favorit. Meja itu selalu kosong. Pernah suatu ketika salah satu pelayannya bilang jika ada pengunjung lain yang duduk maka mereka akan menginfokan bahwa meja itu sudah di booking. Hahaha…. ada-ada saja.

Sontak langkahku terhenti, melihat barang-barang sosok perempuan siang tadi masih tergeletak di atas meja. Ya aku ingat betul posisi laptop, charger laptop, dan tisu basah. Masih di posisi yang sama, tak ada perpindahan.

“Mbak maaf, meja itu bukannya dari pengunjung perempuan yang dari tadi siang ya. Kemana orangnya?” Tanyaku pada salah satu pelayan. “Iya mas, tadi Mba itu ditemukan pingsan di toilet dan segera di larikan ke rumah sakit” jawabnya. “Trus… keadaannya sekarang bagaimana? yang bawa ke rumah sakit siapa?, tanyaku lagi. “Yang bawa ke rumah sakit Bapak mas, trus kami ga tahu keadaan mba itu sekarang bagaimana.” Bapak yang ia maksud adalah pemilik Café Nyoklat. “Oh ya udah, makasih ya.” ucapku.

Seraut wajah itu masih membekas. Entah kepedihan apa yang sedang ia hadapi. Oh wanita yang malang, masalah apakah yang sedang membelenggu dirinya. Wajahnya begitu polos, parasnya pun cantik. Bagaimana keadaannya sekarang, apakah ia baik-baik saja. Aku memang tak tahu siapa dia, tapi entah kenapa aku merasa iba.

Suasana café semakin ramai. Meja-meja yang tadinya kosong kini sudah terisi penuh. Kulihat ke arah meja perempuan itu, masih kosong dengan barang-barangnya. Entah kenapa pelayan disini tak membereskan dan menyimpannya saja. Waktu sudah menunjukkan pukul 21.15 WIB, saatnya pulang ke kost. Aku keluar dari café itu dengan rasa penasaran yang sama seperti tadi siang.

 

Subscribe My Youtube Channel

Baca juga :

BIMBANG : “Coklat Panas dan Sosok Perempuan” (Part 1)

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *